A. Hadis hadis yang berkaitan
1. Hadis Nabi riwayat al-Thabrani:
Artinya:
“Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).
2. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah:
Artinya:
“Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.’” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).
3. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi
Artinya:
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).
4. Hadis Nabi riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda:
Artinya;
Berikanlah upah pekerja sebelumkeringatnya kering (ibnu madjah)
5. Hadis Nabi riwayat Imam al-Bukhari, dari 'Aisyah r.a. ia berkata:
Artinya:
Nabi SAW bersama Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Diil sebagai penunjuk jalan yang mahir, sedang laik-laki itu masih berpegang pada agama kaum kafir Quraisy. Nabi SAW dan Abu Bakar mempercayai orang itu, lalu menyerahkan kedua kendaraan mereka kepadanya dan mereka berjanji kepadannya untuk bertemu di gua Tsur sesudah tiga malam. Laki-laki itu kemudian datang kepada mereka dengan membawa kedua kendaraan tersebut di pagi hari pada malam ketiga. Lalu keduanya pergi (menuju Madinah).
6. Hadis Nabi riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i dari Sa`d Ibn Abi Waqqash, dengan teks Abu Daud, ia berkata:
Artinya:
“Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil tanaman yang tumbuh pada parit dan tempat yang teraliri air; maka Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakan tanah itu dengan emas atau perak (uang).”
7. Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
“Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.”
8. Hadis Nabi riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a., ia berkata:
Artinya:
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.”
9. Hadits Nabi riwayat al-Syafi'i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
"Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya."
10. Hadits Nabi riwayat Jama’ah, kecuali Muslim dan al-Nasa’i, Nabi s.a.w. bersabda:
Artinya:
"Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Orang yang menggunakan kendaraan dan memerah susu tersebut wajib menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan."
B. Hadis Hadis Di Atas Terdapat Dalam Fatwa DSN MUI
· Hadis no 1 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb:
Dewan Syari’ah Nasional No: 03/ DSN-MUI/IV/2000 Tentang Deposito.
Dewan Syari’ah Nasional No: 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Mudharabahah (Qiradh).
Dewan Syari’ah Nasional No: 23/DSN-MUI/III/2002 Tentang Potongan Pelunasan Dalam Murabahah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 34/DSN-MUI/III/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Impor Syari’ah
Dewan Syari’ah Nasional No: 02/ DSN-MUI/IV/2000 Tentang Tabungan.
Dewan Syari’ah Nasional No: 35/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Ekspor Syari’ah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 46/DSN-MU/II/2005 Tentang Potongan Tagihan Murabahah (Khashm Fi Al-Murabahah).
Dewan Syari’ah Nasional No : 69/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Surat Berharga Syari’ah Negara.
· Hadis no 2 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb;
Dewan Syari’ah Nasional No: 02/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Tabungan
Dewan Syari’ah Nasional No: 03/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Deposito.
Dewan Syari’ah Nasional No: 04/DSN-MU/IV/2000 Tentang Murabahah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam.
Dewan Syari’ah Nasional No: 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Mudharabah (Qiradh).
Dewan Syari’ah Nasional No: 23/DSN-MUI/III/2002 Tentang Potongan PelunasanDalam Murabahah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 33/Dsn-Mui/Ix/2002 Tentang Obligasi Syari’ahMudharabah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 34/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Impor Syari’ah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 35/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Ekspor Syari’ah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 37/DSN-MUI/X/2002 Tentang Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Prinsip Syari’ah.
Dewan Syari’ah Nasional No: 38/DSN-MUI/X/2002 Tentang Sertirfikat Invetasi Mudharabah Antar Bank (Sertifikat Ima).
Dewan Syari’ah Nasional No: 46/DSN-MU/II/2005 Tentang Potongan Tagihan Murabahah (Khashm Fi Al-Murabahah).
Dewan Syari’ah Nasional No : 59/DSN-MUI/V/2007 Tentang Obligasi Syari’ah Mudharabah Konversi.
Dewan Syari’ah Nasional No : 60/DSN-MUI/V/2007 Tentang Penyelesaian Piutang Dalam Ekspor.
Dewan Syari’ah Nasional No : 79/DSN-MUI/III/2011 Tentang Qardh Dengan Menggunakan Dana Nasabah.
· Hadis No 3 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb:
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 02/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Tabungan.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 03/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Deposito.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 04/DSN-MU/IV/2000 Tentang Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 06/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Istishna’.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh).
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Musyarakah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Hijarah
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Wakalah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Kafalah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 12/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Hawalah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 13/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Uang Muka Dalam Murabahah.
DEWAN SYAR’IAH NASIONAL NO: 14/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sistem Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 15/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Prinsip Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 16/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Diskon Dalam Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu Yang Menunda-Nunda Pembayaran
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 18/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Pencadangan Penghapusan Akitva Produktif Dalam Lembaga Keuangan Syri’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 19/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Al-Qardh
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 20/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa dana Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 22/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Istishna’ Paralel.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 23/DSN-MUI/III/2002 Tentang Potongan Pelunasan Dalam Murabahah.
DEWABN SYARI’AH NASIONAL NO: 27/DSN-MUI/III/2002Tentang Al-Ijarah Al-Muntahiyah Bi Al-Tamlik.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 29/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 30/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pembiayaan Rekening Koran Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 31/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pengalihan HutangDEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 32/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 33/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syari’ah Mudharabah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 34/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Impor Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 35/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Ekspor Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 40/DSN-MUI/X/2003 Tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum Penerapan Perinsip Syari’ah Bidang Pasar Modal.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 41/DSN-MUI/III/2004 Tentang Obligasi Syari’ah ‘Ijarah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 42/DSN-MUI/V/2004 Tentang Syari’ah Charge Cardt.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 43/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Ganti Rugi (Ta’widh).
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 44/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Pembiayaan Multi Jasa.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 45/DSN-MUI/II/2005 Tentang Line Facility.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 46/DSN-MUI/II/2005 Tentang Potongan Tagihan Murabahah (Khashm Fi Al-Murabahah).
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 47/DSN-MUI/II/2005 Tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 48/DSN-MUI/II/20005 Tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 49/DSN-MUI/II/2005 Tentang Konvensi Akad Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 55/DSN-MUI/V/2007 Tentang Pembiayaan Rekening Koran Syari’ah Musyarakah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 56/DSN-MUI/V/2007 Tentang Ketentuan Review Ujrah Pada Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 57/DSN-MUI/V/2007 Tentang Letter Of Credit ( L/C ) Dengan Akad Kapalah Bil Ujrah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 58/DSN-MUI/V/2007 Tentang Hawalah Bil Ujrah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 59/DSN-MUI/V/2007 Tentang Obligasi Syari’ah Mudharabah Konversi.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 60/DSN-MUI/V/2007 Tentang Penyelesaian Piutang Dalam Ekspor.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 61/DSN-MUI/V/2007 Tentang Penyelesaian Piutang Dalam Impor.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 66/DSN-MUI/III/2008 Tentang Waran Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 67/DSN-MUI/III/2008 Tentang Anjak Piutang Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 69/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Surat Berharga Syari’ah Negara.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 70/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Metode Penerbitan Surat Berharga Syari’ah Negara.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 71/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Sale And Lease Back.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 72/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Surat Berharga Syari’ah Negara Ijarah Sale And Lease Back.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 73/DSN-MUI/XI/2008 Tentang Musyarakah Mutanasiqah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 74/DSN-MUI/I/2009 Tentang Penjaminan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 76/DSN-MUI/VI/2010 Tentang SBSD Ijarah Assep To Be Leased .
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 78/DSN-MUI/IX/2010 Tentang Mekanisme Dan Instrumen Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Prinsip Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 79/DSN-MUI/III/2011 Tentang Qardh Dengan Menggunakan Dana Nasabah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 02/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Tabungan.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 03/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Deposito.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 04/DSN-MU/IV/2000 Tentang Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 06/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Istishna’.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh).
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Musyarakah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Hijarah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Wakalah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Kafalah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 12/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Hawalah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 13/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Uang Muka Dalam Murabahah.
DEWAN SYAR’IAH NASIONAL NO: 14/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sistem Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 15/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Prinsip Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 16/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Diskon Dalam Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu Yang Menunda-Nunda Pembayaran.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 18/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Pencadangan Penghapusan Akitva Produktif Dalam Lembaga Keuangan Syri’ah
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 19/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Al-Qardh
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 20/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa dana Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 22/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Istishna’ Paralel.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 23/DSN-MUI/III/2002 Tentang Potongan Pelunasan Dalam Murabahah.
DEWABN SYARI’AH NASIONAL NO: 27/DSN-MUI/III/2002Tentang Al-Ijarah Al-Muntahiyah Bi Al-Tamlik.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 29/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syari’ah
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 30/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pembiayaan Rekening Koran Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 31/DSN-MUI/VI/2002 Tentang Pengalihan Hutang.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 32/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 33/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Obligasi Syari’ah Mudharabah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 34/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Impor Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 35/DSN-MUI/IX/2002 Tentang Letter Of Credit (L/C) Ekspor Syari’ah
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 40/DSN-MUI/X/2003 Tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum Penerapan Perinsip Syari’ah Bidang Pasar Modal.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 41/DSN-MUI/III/2004 Tentang Obligasi Syari’ah ‘Ijarah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 42/DSN-MUI/V/2004 Tentang Syari’ah Charge Cardt.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 43/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Ganti Rugi (Ta’widh).
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 44/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Pembiayaan Multi Jasa.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 45/DSN-MUI/II/2005 Tentang Line Facility.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 46/DSN-MUI/II/2005 Tentang Potongan Tagihan Murabahah (Khashm Fi Al-Murabahah).
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 47/DSN-MUI/II/2005 Tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 48/DSN-MUI/II/20005 Tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 49/DSN-MUI/II/2005 Tentang Konvensi Akad Murabahah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 55/DSN-MUI/V/2007 Tentang Pembiayaan Rekening Koran Syari’ah Musyarakah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 56/DSN-MUI/V/2007 Tentang Ketentuan Review Ujrah Pada Lembaga Keuangan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 57/DSN-MUI/V/2007 Tentang Letter Of Credit ( L/C ) Dengan Akad Kapalah Bil Ujrah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 58/DSN-MUI/V/2007 Tentang Hawalah Bil Ujrah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 59/DSN-MUI/V/2007 Tentang Obligasi Syari’ah Mudharabah Konversi.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 60/DSN-MUI/V/2007 Tentang Penyelesaian Piutang Dalam Ekspor.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 61/DSN-MUI/V/2007 Tentang Penyelesaian Piutang Dalam Impor.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 66/DSN-MUI/III/2008 Tentang Waran Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 67/DSN-MUI/III/2008 Tentang Anjak Piutang Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 69/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Surat Berharga Syari’ah Negara.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 70/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Metode Penerbitan Surat Berharga Syari’ah Negara.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 71/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Sale And Lease Back.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 72/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Surat Berharga Syari’ah Negara Ijarah Sale And Lease Back.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 73/DSN-MUI/XI/2008 Tentang Musyarakah Mutanasiqah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 74/DSN-MUI/I/2009 Tentang Penjaminan Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 76/DSN-MUI/VI/2010 Tentang SBSD Ijarah Assep To Be Leased .
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 78/DSN-MUI/IX/2010 Tentang Mekanisme Dan Instrumen Pasar Uang Antar Bank Berdasarkan Prinsip Syari’ah.
DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO : 79/DSN-MUI/III/2011 Tentang Qardh Dengan Menggunakan Dana Nasabah.
· Hadis ke 4 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb:
Fatwa DSN MUI No 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah
Fatwa DSN MUI No 44/DSN-MUI/VIII/2004 tentang pembiayaan multijasa
Fatwa DSN MUI No 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang surat berharga syariah Negara ijarah sale and lease back
Fatwa DSN MUI No 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN_ijarah to be leased
· Hadis ke 5 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb:
Hadis Nabi riwayat Imam al-Bukhari, dari ‘Aisyah r.a. hanya terdafat pada fatwa no 09/DSN-MUI/IV/2002 tentang safe deposit box.
· Hadis ke 6 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb:
Fatwa DSN MUI No 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah
Fatwa DSN MUI No 27/DSN-MUI/III/2000 tentang ijarah IMBT
Fatwa DSN MUI No 44/DSN-MUI/VIII/2004 tentang pembiayaan multijasa
Fatwa DSN MUI No 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN ijarah
Fatwa DSN MUI No 74/DSN-MUI/I/2009 tentang penjaminan syariah
Fatwa DSN MUI No 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN ijarah to be leased
· Hadis ke 7 terdapat dalam fatwa DSN MUI antara lain sbb:
Fatwa DSN MUI No 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah
Fatwa DSN MUI No 29/DSN-MUI/VI/2002 tentang pembiayaan pengurusan haji
Fatwa DSN MUI No 34/DSN-MUI/IX/2002 tentang LC Inport
Fatwa DSN MUI No 35/DSN-MUI/IX/2002 tentang JC eksport
Fatwa DSN MUI No 44/DSN-MUI/VIII/2004 tentang pembiayaan multijasa
Fatwa DSN MUI No 58/DSN-MUI/V/2007 tentang Hawalah bil Ujrah
Fatwa DSN MUI No 67/DSN-MUI/III/2008 tentang anjak piutang
Fatwa DSN MUI No72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN ijarah
Fatwa DSN MUI No 74/DSN-MUI/I/2009 tentang penjaminan syariah
Fatwa DSN MUI No 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN ijarah asset to be leased
· Hadis ke 8 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb:
Fatwa DSN MUINO.25/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn
Fatwa DSN MUI NO.68/DSN-MUI/III/2008 tentang rah tasjili
· Hadis ke 9 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb
Fatwa DSN MUINO.25/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn
Fatwa DSN MUI NO.68/DSN-MUI/III/2008 tentang rah tasjili
· Hadis ke 10 terdapat pada fatwa DSN MUI antara lain sbb
Fatwa DSN MUINO.25/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn
Fatwa DSN MUI NO.68/DSN-MUI/III/2008 tentang rah tasjili
C. Penjelasan Hadis Hadis
· Hadis no 1
Hadist riwayat At-Thabrani merupakan dalil bagi ketetapan no. 2 yang menetapkan bahwa giro dapat diterapkan berdasarkan prinsip mudharabah. Hadist ini lemah. Tetapi dalam bab mudharabah selalu dijadikan acuan para fuqaha. Sesungguhnya giro, dalam pengertian konvensial sekali-pun, tidak di peruntukkan untuk menghasilkan suatu financial return, ia dipakai lebih banyak untuk memberikan kemudahan bagi mereka yang sering melakukan transaksi keuangan. Karena itu rekening giro yang dapat memberikan return kepada penitip sesungguhnya tidak sesuai dengan filosofi rekening giro itu sendiri. Sebaiknya giro syariah tidak di pakai unutk titipan atau simpanan produktif.
Hadis diatas ada terdapat didalam fatwa dewan syari’ah diatas karena saling berkaitan yang adanya syarat-syarat tertentu yang berdasarkan prinsip mudharabah disepakati bersifat mengikat diantara pihak yang terlibat didalamnya
· Hadis no 2
Didalam penjelasan hadis diatas berkaitan erat dengan transaksi yang mengandung berkah atau kebaikan untuk pihak pemilik dana yang berdasarkan prinsip mudhrabah yang mengandung syarat-syarat islam yang mempunyai hak yang lebih untuk dilayani adalah pihak nasabah karena harta yang dikelola berupa uang atau alat tukar yang mempunyai nilai beli yang diserahkan kepada pihak pengelola dana yang berasal dari nasabah yang akan dikelola oleh pihak pengelola dana untuk mengembangkannya dengan tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah.
· Hadis no 3
Hadist riwayat Tarmizi adalah dalil adanya kebebasan berkontrak dalam syariah, selama kontrak tersebut tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Melakukan kontrak dengan orang lain merupakan hak individu yang dijamin oleh syariah. Karena itu perikatan perjanjian dalam bentuk perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslimin.
· Hadis no 4
Hadis Nabi riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar ini berkaitan dengan produk simpanan, yakni misalanya safe deposit box, rahn mas, rahn dan semua yang berkaitan dengan produk simpanan dalam perbankan, dalam hadis ini telah ditetapkan bahwa kita sebagai nasabah diharuskan membayar upah kepada pihak perbankan karna nasbah telah menggunakan jasanya, tentu upah yang diberikan harus sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat pada awal antara pihak nasabah dan perbankan dan atas asas suka sama suka dan tidak ada pihak yang terbebani antara nasabah dengan pihak perbankan.
· Hadis no 5
Dalam hadis Nabi riwayat Imam al-Bukhari, dari 'Aisyah r.a ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk menyimpan barang itu harus di tempat yang aman dan yang bisa dipercaya dan pembayaranya harus sesuai dengan kesepakatan bersama dan dibayar pada waktu yang telah ditentukan pula. Salah satu contoh tempat penyimpanan yang aman adalah di bank karena di bank memiliki beberapa kelebihan yang salah satunya adalah mudahh diakses dan nyaman serta dapat dipercaya.
· Hadis no 6
Maksud dari Hadis Nabi riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i dari Sa`d Ibn Abi Waqqash, dengan teks Abu Daud ini adalah terkait pada pembayaran kepada pihak bank, karna kita telah melakukan penyimpanan di bank maka kita harus membayar dengan uang atau emas berdasarkan kesepakatan awal, pihak nasabah tidak boleh membayar upah dengan hasil yang belum tentu halal dan haramnya (syubhat) apalagi dengan hasil yang haram.
· Hadis no 7
Maksud dari Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri ini adalah tertuju kepada pihak nasabah karna secara tidak langsung memberikan pekerjaan kepada pihak bank untuk mengelola uang yang mereka simpan, dan dalam hadis ini merekomendasiikan dan memang seharusnya untuk menentukan berapa upah yang didapat oleh bank atas uang yang nasabah simpan.
· Hadis no 8
Merupakan dalil lain atas diperbolehkannya praktek rahn. Dalam hadis ini Rasulloah membeli makanan dari orang yahudi dengan berutang, dan kemudian rasulullah menggadaikan sebuah baju besi sebagai jaminan
· Hadis no 9
Hadis diatas merujuk pada mekanisme akad rahn, hadis ini memiliki sanad hasan. Berdasarkan hadis ini, pihak murtahin tidak di perbolehkan mensyaratkan pemilikan mahrun kepada murtahin, jika rahin tidak mampu melunasi hutang pada batas waktu yang ditentukan, mahrun tetap menjadi milik rahin. Mahrun tidak bisa secara otomatis menjadi milik murtahin ketika rahin tidak mampu melunasi hutangnya. Jika memang rahin belum masih melunasi, maka pihak hakim yang akan memaksa pihak rahin untuk menjual mahrun, kemudian ditunaikanlah hak murtahin, jika masih terdapat kelebihan, maka menjadi hak rahin, dan jika masih kurang, maka rahin wajib untuk melunasinya. Hadis ini juga memberikan pengertian bahwa biaya yang terkait dengan mahrun menjadi tanggungan rahin sebagai pemiliknya.
· Hais no 10
Hadis ini merupakan dalil lain diperbolehkannya akad rahn. Hadis ini terkait dengan penjelasan biaya-biaya yang terkait dengan mahrun. Semua biaya yang terkait secara langsung dengan dzat atau ‘ain mahrun menjadi tanggung jawab rahin, ia memiliki tanggungan atas kemaslahatan dan kebaikan dzat mahrun, karena ia merupakan pemiliknya. Bagi murtahin memiliki kewajiban untuk menjaganya dan biaya yang terkait dengan hal itu, karena mahrun layaknya sebuah titipan dan ia berkewajiban untuk menjaganya.
Comments
Post a Comment